.................................................................................

Tampilkan postingan dengan label Dunia Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Balita. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Juli 2010

Perlukah Kepala Bayi Digunduli sampai Plontos

Ketika lahir, umumnya terdapat rambut sementara yang tipis dan halus di kepala bayi. Kebanyakan rambut ini akan rontok dengan sendirinya pada minggu-minggu selanjutnya, lalu tumbuhlah rambut permanen. Mau digunduli atau tidak, kembali pada pilihan masing-masing orangtua. Ada alasan kenapa rambut si kecil dipotong habis, yaitu:

Bolehkah Bayi Dibedong?

Banyak ibu modern yang malas membedong bayinya karena dianggap kuno dan khawatir napas bayi menjadi sesak. Padahal, bayi yang dibedong merasa lebih nyaman.

"Bayi yang dibedong akan merasakan seolah berada dalam rahim ibunya karena posisinya kan mirip dalam rahim," kata dr Rinawati Rohsiswatmo, SpA(K), konsultan perinatologi dari Departemen IKA FKUI RSCM, di Jakarta, Selasa (6/7/2010).

Makanan Pencetus Alergi

Tak sedikit orang yang menghindari makanan jenis tertentu, pada umumnya makanan laut atau produk susu sapi, karena khawatir mengalami gangguan alergi makanan.

Alergi makanan adalah reaksi alergi yang timbul akibat kita mengonsumsi makanan yang mengandung zat yang bisa menimbulkan alergi atau disebut juga alergen. Hal ini terjadi karena sistem imun kita menolak kehadiran alergen yang dianggap sebagai benda asing yang mengancam.

Jumat, 12 Februari 2010

Tanda-Tanda Bayi Capek, Kepanasan dan Kedinginan

Untuk melihat ketiga hal di atas memang tidak mudah, tapi jika kita sudah tahu cirinya, jadi mudah, kok. Menghadapi seorang bayi, orang tua memang kerap dibuat bingung dan serba salah. Pasalnya si bayi belum bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan atau apa yang dia inginkan dengan bahasa yang kita pahami.

Mereka hanya bisa menangis atau bersikap rewel Alhasil, kalau si kecil menangis dan popoknya tidak basah, maka kita menduga ia lapar atau sekadar manja. Padahal belum tentu, lo. Bisa saja dia menangis karena kedinginan, kegerahan, atau kecapekan.

Seperti diakui dr. Anna Tjandrajani, Sp.A. dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, memang tak banyak orang tahu ciri bayi kedinginan, kegerahan, atau kecapekan. “Akan tetapi, kalau kita tahu ciri-cirinya, maka mudah saja, lo, mendeteksinya.” Untuk itu, ia pun bersedia membeberkan “rahasianya” kepada kita.


BAYI KEGERAHAN

Kita juga sering salah mendeteksi suhu badan anak yang meningkat. Disangka sakit, tak tahunya cuma kegerahan. Adapun penyebab anak kegerahan, menurut Anna, lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan, seperti kurang ventilasi, cuaca di luar sedang terik, ruangan sempit, atau cahaya yang masuk ke ruangan berlebihan.

* Ciri-cirinya:
1. Anak mulai gelisah.
2. Kulit anak mulai memerah atau melegam dari sebelumnya.
3. Berkeringat, baik di dahi, kepala, dan ketiak. Bajunya juga basah.
4. Kulit di bagian lain tubuhnya jadi kering.
5. Bibirnya juga kering.

* Penanganan:
Kalau tidak cepat ditangani, anak bisa mengalami dehidrasi.
Inilah langkah-langkah penanggulangannya:
•Jauhkan anak dari sumber panas, dan dinginkan udara ruangan. Kalau sedang berada di bawah terik matahari, segeralah berteduh. Jika sedang berada di dalam ruangan tertutup yang kurang ventilasi, misalnya di dalam mobil yang tak berpendingin udara, ajak anak keluar dari kendaraan.
•Lepaskan selimut anak. Juga sebaiknya bayi tidak dibedong. “Takutnya, karena terbiasa dibedong, maka ketika segala sesuatu yang menutupi tubuhnya dilepas, anak malah menggigil.” Jika hal itu benar terjadi, waspadalah. Mungkin, suhu yang meningkat itu merupakan demam.
•Pakaikan baju bayi yang sesuai untuk iklim tropis, seperti katun atau bahan-bahan yang menyerap keringat. Gantilah secepat mungkin baju bayi yang basah oleh keringat.
•Setelah itu, ukur suhu anak dengan termometer. Jika hasilnya menunjukkan angka 36-37,5 derajat Celcius, berarti ia masih normal. Jika lebih dari 37,5 derajat Celcius, kemungkinan anak demam. Jika sampai 39 derajat Celcius berarti dia sudah demam tinggi, apalagi jika sampai 40 derajat Celsius lebih, bisa jadi dia mengalami hipertermia.
•Untuk membedakan gerah dengan sakit, cara praktisnya adalah dengan meraba badan anak, apakah suhu tubuhnya sama atau lebih tinggi dari tubuh kita. “Tapi cara ini tetap tidak menjamin. Paling tepat, ukur dengan termometer,” anjur Anna.

BAYI KECAPEKAN
Kita pun perlu mengetahui ciri bayi yang mengalami kelelahan. Biasanya ini terjadi bila kualitas tidurnya kurang, terlalu sering digendong, atau terlalu lama bermain. Menurut Anna, umumnya anak yang mengalami kecapekan pasti akan tidur dengan sendirinya. Namun demikian, hal itu bisa dilihat secara lebih menyeluruh.

* Ciri-cirinya:
•Bayi rewel. Bila setelah diajak berjalan-jalan dan diteteki tetap rewel, bisa jadi anak itu kecapekan. Tenangkan dia dengan cara membuatnya nyaman, supaya dia bisa tertidur dengan pulas. Mungkin juga dia mencari tempat tidur.
•Tatapan matanya sayu, tidak bergairah, atau layu. Namun, menurut Anna, ciri ini tidak selalu menjamin bahwa si bayi memang kecapekan. Bisa jadi ia sedang sakit. Karena itulah pahami betul anak kita secara baik. Periksa selalu kondisi fisik dan suhu tubuhnya, termasuk fesesnya. Jika kita curiga, cepatlah bawa ke dokter. Harus diingat, terlalu sering kecapekan akan menurunkan daya tahan tubuh dan kemudian mengundang penyakit.

BAYI KEDINGINAN
* Ciri-cirinya pada bayi baru lahir/neonatus
•Anak menggigil, walau biasanya ciri ini tak mudah terlihat pada bayi kecil.
•Kulit anak terlihat belang-belang, merah campur putih atau timbul bercak-bercak.
•Anak terlihat apatis atau diam saja.
•Lebih parah lagi, anak menjadi biru yang bisa dilihat pada bibir dan ujung jari-jarinya.
•Jika hal tersebut tetap saja dibiarkan, anak bisa berhenti bernapas.
Puncaknya, anak bisa terkena hipotermia dan meninggal.

Namun, orang tua tak perlu terlalu khawatir. Biasanya, indikasi pertama sudah bisa terlihat oleh perawat maupun dokter yang kemudian menanganinya dengan mengambil tindakan penghangatan atau heatradian (disinar oleh cahaya lampu biasa dan diselimuti). Kalau perlu dengan menggunakan kasur penghangat.

“Sekalipun begitu, untuk memastikan, sebaiknya bayi langsung diukur suhu badannya dengan termometer. Kalau angkanya di bawah 35 derajat Celcius, berarti anak terkena hipotermia, sebab suhu normal manusia adalah 36-37,5 derajat Celcius,” ujar Anna.

* Untuk bayi di atas 1 bulan
Sekalipun kini bayi sudah lebih kuat dibandingkan sebelumnya, jika suhu lingkungan begitu rendah dan tidak membuatnya nyaman, kemungkinan besar si anak juga kedinginan. Ciri-cirinya, menurut Anna, ada yang bisa dideteksi secara kasat mata, ada juga yang mesti dengan perabaan.

1. Yang bisa dideteksi secara kasat mata:
Kondisi bayi tak jauh berbeda dari bayi neonatus yang kedinginan. Cirinya:
•Ia cenderung diam saja.
•Kulit anak terlihat belang-belang, merah campur putih atau berbercak-bercak.
•Anak menjadi biru dengan ciri, bibir dan ujung jari-jarinya membiru. Jika dibiarkan, anak bisa berhenti bernapas. Puncaknya, anak bisa mengalami hipotermia. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi kematian. “Hanya saja kalau bayi neonatus akan lebih cepat birunya. Sementara pada bayi yang lebih besar akan agak lama perubahannya,” ujar Anna.

2. Yang bisa dideteksi dengan perabaan
•Tangan dan telapak tangannya terasa dingin, begitu juga telapak kakinya.
•Tubuhnya lebih dingin dari tubuh kita. Untuk memastikannya, periksalah dengan termometer yang dipasang di anus.
Atasi kedinginan ini dengan memberinya selimut. Hangatkan pula suhu lingkungan atau ruangan dimana bayi berada. Bisa dengan mematikan AC atau menghangatkan tubuh anak dengan lampu 60 watt yang ditempatkan di atas tempat tidurnya. Jaraknya kurang lebih 1,5 meter dari tubuh anak.

Peluklah anak dengan kasih sayang, “Malah inilah cara yang terbaik,” kata dokter yang berpraktek juga di Klinik Anakku Cinere. Hanya saja, saat tidur lebih baik anak dihangatkan dengan lampu. Jauh lebih baik lagi jika kasur anak pun menggunakan penghangat. Jika suhu tubuhnya tak kunjung normal, segeralah bawa si kecil ke dokter terdekat.


Sumber : tabloid Nakita
Jumat, 22 Januari 2010

Cek Sendiri Kesehatan Balita

Seringkali para ibu bertanya, “Sehatkah balita?”. Meskipun bukan seorang dokter, semua bunda dan ayah bisa, menyatakan balita Anda sehat dan berkembang optimal. Simak beberapa tanda, balita Anda sehat!

Cek tanda-tandanya lewat kriteria di bawah ini:


•Lincah dan aktif. Seusia balita memang sedang aktif-aktifnya bergerak, tidak bisa diam. Dan jika tiba-tiba balita menjadi lesu, waspadalah, karena siapa tahu ia sedang tidak enak badan, namun enggan mengatakannya kepada Anda.
•Bahagia dan responsif. Para pakar perkembangan mengatakan, kecerdasan anak antara lain bisa dilihat dari kontak matanya yang responsif. Untuk menstimulinya, ajak anak bicara setiap ada kesempatan dan tatap matanya.
•Rambut tidak mudah rontok dan kusam. Jangan abaikan bila rambut balita mudah rontok dan tampak kusam. Bisa jadi dia kekurangan vitamin B kompleks dan mineral seng (zinc). Sebaliknya, jika rambutnya mengilap dan kuat, artinya balita cukup gizi, serta kebersihan rambut dan kulit kepala terjaga.
•Gigi cemerlang. Jika di usia setahun gigi pertamanya belum juga tumbuh, bisa jadi balita kekurangan kalsium. Biasakan ke dokter gigi enam bulan sekali untuk pemeliharaan.
•Gusi merah muda, tak mudah berdarah. Jika gusi balita mudah berdarah, ada kemungkinan dia mengalami kekurangan vitamin C. Sehat atau tidaknya gigi dan gusi balita juga bisa tercium dari bau mulut balita.
•Kulit bersih, dan jika terjadi luka mudah sembuh. Dalam kondisi sehat, sel-sel kulit akan lebih cepat memperbaiki diri ketika terjadi luka.
•Kuku merah muda, tidak pucat, dan tidak rapuh. Ini menunjukkan bahwa balita tidak mengalami anemia dan tidak kekurangan mineral kalsium.
•Suhu tubuh antara 36,5 derajat celcius sampai 37,5 derajat celcius. Coba cek suhu tubuhnya ketika tiba-tiba ia lesu dan tidak lincah. Biasanya, jika terjadi infeksi kuman penyakit, suhu tubuh balita akan meningkat.
•Makan lahap. Jika di usia dua tahun anak masih melepeh makanannya, bisa jadi ia mengalami gangguan mengunyah dan menelan makanan, karena tahapan emas anak belajar makan dengan baik ada di usia 6-12 bulan. Gangguan ini bisa menyebabkan anak kurang gizi dan mengganggu kemampuan bicara anak.
•Tidurnya lelap dalam waktu yang cukup. Anak usia di bawah lima tahun perlu tidur sekitar 10 jam sehari, sehingga sel-sel saraf di otaknya bisa berkembang optimal.
•Urusan ke 'belakang' lancar. Gangguan sembelit yang berkepanjangan dapat menyebabkan berbagai gangguan di organ dalam, karena sisa makanan terlalu lama tersimpan di perut. Sedangkan diare menunjukkan ada gangguan di alat pencernaan, sehingga penyerapan makanan kurang baik.
•Cocok dengan Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS yang diberikan dokter sebaiknya dijadikan 'primbon' untuk memantau perkembangan balita. Jika ada penyimpangan, jangan ragu untuk mengonsultasikannya dengan dokter.
•Antusias bermain. Anak sehat selalu antusias bila diajak bermain, kecuali jika ia mengantuk.
•Bentuk kaki normal. Jika Anda menemukan bentuk kaki balita tidak normal (berbentuk O atau X), bahkan setelah ia menginjak usia tiga tahun, sebaiknya periksakan ke dokter.
•Harum baunya. Sering-seringlah mengganti pakaiannya ketika ia berkeringat, sehingga bau tubuhnya tidak menyengat. Keringat yang tidak dilap dan tubuh yang jarang dibersihkan bisa menjadi sumber penyakit.

Sumber : www.ayahbunda.co.id


Pola Pup dan Gangguan Kesehatan Bayi

Pola pup bayi yang diberi ASI dengan yang diberi susu formula berbeda dalam bentuk dan warna. Meski tak perlu terlalu panik, segera bertindak jika ada perubahan disertai demam, muntah dan lemas.

Bayi yang mendapat ASI eksklusif pada umumnya, buang air besar satu hingga tujuh kali dalam sehari, atau lebih. Oleh karena komposisi ASI selalu sesuai dengan tahap perkembangan sistem pencernaan bayi, zat makanan pun mudah dicerna. Jadi, bila bayi Anda sering buang air besar, tidak selalu berarti ia terserang diare. Artinya, ini adalah pola normal bayi Anda.


Tapi sebaliknya, ada juga bayi yang diberi ASI Eksklusif justru tidak pup seminggu hingga 10 hari. Selama Anda menyentuh bagian perut, ia tak merasa sakit dan terasa kosong, besar kemungkinan zat makanan dari ASI terserap semuanya.

Apabila bayi Anda diberi ASI dengan tambahan susu formula atau hanya diberi susu formula, frekuensi pup bayi, biasanya frekuensi buang air besarnya lebih jarang dan kotoran yang keluar lebih sedikit. Pasalnya, zat makanan susu formula lebih sulit dicerna dibandingkan ASI. Yang juga berbeda, bayi yang diberi susu formula cenderung lebih mudah dan sering terserang diare. Penyebabnya, antara lain, peralatan untuk menyiapkan susu formula kurang steril, dan reaksi alergi karena tubuh bayi sensitif terhadap senyawa-senyawa tertentu di dalam susu sapi. Jenis alergi yang paling sering dialami bayi: alergi terhadap protein susu sapi.

Tampilan pup bayi yang tidak seperti biasanya, serta perubahan pola pup, bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan pada tubuhnya. Bila perubahan tersebut disertai dengan gejala muntah, demam, pucat, dan lemas, meskipun Anda terus menyusuinya, hubungi segera dokter anak untuk mendapat pertolongan selanjutnya. Jangan lupa membawa catatan pola menyusu, pola pup dan muntah (apabila disertai muntah) sebagai informasi penting dokter bayi.

sumber : http://www.ayahbunda.co.id

Warna Pup vs Kesehatan Bayi Baru

Amati pup bayi! Warna dan bentuk kotoran dapat mengungkapkan kondisi kesehatan bayi.

Dua puluh empat jam setelah lahir, bayi akan “pup” alias buang air besar (BAB). Kotoran pertama ini umumnya berwarna hitam kehijau-hijauan, dan disebut sebagai mekonium.

Mekonium terbentuk dari cairan ketuban yang tertelan ketika bayi masih di dalam kandungan, dan berada di dalam ususnya sejak 3 bulan sebelum dilahirkan. Segera setelah bayi mulai menyusu, mekonium akan terdesak keluar, sebab ASI merangsang sistem pencernaan bayi untuk mulai melakukan tugasnya.



Berubah warna dan bentuk. Setelah mengeluarkan mekonium, pup yang dikeluarkan bayi akan berubah-ubah warna dan bentuk, sesuai komposisi senyawa di dalam ASI yang Anda berikan kepadanya. Berikut perubahan dan peralihan warna berdasarkan asupan gizi dari ASI:

* Berbentuk cairan berwarna hijau atau kuning. Biasanya ini merupakan kotoran transisi antara mekonium dan kotoran yang terbentuk dari “sampah” ASI. Kotoran seperti ini keluar selama beberapa hari setelah bayi lahir.
* Berbentuk mirip butiran beras, warna kuning cerah dan bau agak asam. Ini biasanya merupakan kotoran yang dihasilkan setelah bayi mengonsumsi ASI secara teratur.
* Berbentuk agak padat, warna kuning pucat atau kuning kecokelatan, berbau asam agak tajam. Ini merupakan kotoran yang dihasilkan oleh bayi yang diberi susu formula, selain ASI.
* Berbentuk cair, tanpa disertai ampas, dan berwarna hijau. Ini merupakan penampilan kotoran yang menandakan bahwa bayi mengalami diare.
* Berbentuk bulat-bulat seperti kotoran kambing, padat dan keras, berwarna kehitaman. Ini merupakan penampilan kotoran yang menandakan bayi mengalami sembelit.

Kalau tiba-tiba pup bayi berubah bentuk dan warna disertai reaksi menangis dan rewel, Anda perlu memberi perhatian ekstra. Terutama, beri perhatian pada makanan dan minuman yang Anda konsumsi yang bisa mempengaruhi komposisi gizi dalam ASI yang Anda produksi.

sumber : http://www.ayahbunda.co.id

Kamis, 14 Januari 2010

4 Mitos Seputar Bayi

Datangnya si bayi ke dalam rumah selain mendatangkan rasa bahagia, juga mengundang rasa bingung untuk para orangtua baru. Maksud hati menambah informasi dengan mendengarkan banyak orang, membaca banyak buku, juga menonton banyak acara televisi seputar bayi. Tetapi, justru makin banyak nasihat yang membingungkan. Supaya tak terlalu bingung, simak 4 mitos seputar bayi berikut.



1. Bayi perlu BAB sekali sehari
Para orangtua muda berpikir bahwa bayinya sedang konstipasi, padahal tidak, ujar Andrew Adesman, MD, kepala perkembangan dan perilaku anak di Schneider Children's Hospital, di New York. Saluran pencernaan bayi memang mengalami pergerakan setiap harinya, namun kadang bayi baru bisa BAB setiap 3-4 hari sekali, dan hal ini bisa berlangsung sekitar 2-3 bulan. Jika pergerakan dalam saluran pencernaan sudah sangat keras dan tidak teratur, atau Anda melihat ada darah di popoknya, segera hubungi dokter si kecil.

2. Bayi harus dimandikan setiap hari
Seperti Anda ketahui, mandi bisa mengurangi kelembapan pada kulit, baik untuk orang dewasa maupun untuk bayi. Karena kulit bayi sangat rentan dan tipis, mandi terlalu sering bisa menyebabkan kulit kering dan iritasi. Plus, duduk di dalam air sabun bisa menyakiti saluran uretra bayi perempuan, dan bisa berujung pada infeksi saluran urin. Asalkan si bayi tidak terlalu kotor atau lengket karena terlalu banyak diberi bedak atau lotion, Anda cukup mengelapnya saja, tak perlu memandikannya terlalu sering, terang Adesman.

3. Bayi yang berkembang lebih cepat daripada yang normal, lebih berbakat

Seringkali orangtua menaruh harap sangat tinggi agar anaknya bisa berjalan atau bicara di usia yang sangat muda, kalau bisa lebih cepat dari rata-rata bayi lain. Dengan harapan, jika ia bisa melakukan gerak motorik lebih cepat, berarti ia akan lebih pintar ketimbang anak lainnya. Padahal, di beberapa kasus, “pencapaian” lebih cepat semacam ini justru merupakan potensi masalah. Misalnya, ketika si anak menunjukkan kecenderungan penggunaan tangan kanan atau kiri sebelum usia 18 bulan, maka berarti ada sesuatu yang mesti diperiksakan. Pada usia tersebut, sebenarnya anak sedang belajar mengkoordinasikan otak kanan maupun kiri, yang masing-masing mengendalikan tangan kiri dan tangan kanannya.

4. Menyentuh bagian terlembut di kepala akan melukai otak bayi
Bagian fontanel, atau bagian lembut di bagian depan kepala bayi adalah bagian yang terbuka dari tengkorak kepala yang belum tertutup rapat, tapi terselubung oleh kulit. Bagian tersebut terlihat sangat rentan, karenanya orangtua sangat takut dengan bagian tersebut. Padahal sebenarnya bagian tersebut cukup aman. Biasanya, bagian tersebut akan benar-benar tertutup rapat oleh tengkorak di usia 1 tahun, sementara bagian lembut di bagian belakang kepala bagi akan tertutup di usia bayi menginjak 2-3 bulan.


Sumber: www.kompas.com


Rabu, 13 Januari 2010

Mengajak bayi bicara itu penting lho!

Ah, bagaimana mungkin? Bayi, kan, belum bisa berbicara. Jangan-jangan nanti dikira enggak waras. Mengapa penting mengajak bayi berbicara?

Jangan takut dianggap tak waras kala Anda mengajak si mungil berbicara. Bayi memang belum bisa berkata-kata, tapi tak berarti ia tak mampu untuk diajak berbicara.


Para ahli menganjurkan orangtua agar mulai mengajak berbicara anak sejak ia lahir dan jangan pernah berhenti. Biasakan untuk selalu mengomentari apa saja yang Anda lakukan terhadap si bayi. Misalnya, saat mengganti popok, memandikan, menyusui, dan sebagainya. Katakan padanya setiap saat tentang apa saja yang Anda lihat di sekeliling Anda, maupun apa yang sedang Anda lakukan untuk diri sendiri seperti membaca atau bahkan memasak.

Pokoknya, ngomonglah apa saja kepada si bayi. Tataplah matanya dan Anda pun akan takjub melihat betapa ia sangat menaruh perhatian selama Anda berbicara. Seringkali ia bereaksi terhadap apa yang Anda katakan, seperti menjerit kesenangan atau cemberut kala ada yang tak disukainya. Tak percaya? Silakan Anda buktikan.

PENDENGARAN TAJAM
Belajar berbicara, seperti dikatakan Dr. Adi Tagor, Sp.A., DPH dari RS Pondok Indah Jakarta, merupakan kunci penting untuk mengarahkan si bayi pada kemampuannya berbahasa yang timbul setelah usia setahun sampai tiga tahun. "Tujuannya mendorong perkembangan komunikasi verbal atau linguistic capability anak," jelasnya.

Pada tahap awal, bayi memulai "pelajaran" berbicara dengan mendengarkan. Karena itu, Adi Tagor menasehati, "Biarkan bayi mendengarkan apa saja yang Anda katakan. Inilah langkah awal untuk memberinya pemahaman. Bila bayi banyak mendengar, ia akan cepat belajar bicara." Kemampuan mendengar suara pada bayi, sudah ada sejak ia masih di kandungan, pada sekitar usia 3-4 bulan kehamilan. "Ada faktor intrinsik yang mengenal irama, kekerasan suara, frekuensi, dan nada-nada suara. Karena itu, bayi bisa menerima sinyal-sinyal meskipun belum mengerti," terangnya.

Setelah lahir, pendengaran bayi menjadi sangat peka. Suara menjadi jelas terdengar karena tak terhalang air ketuban maupun dinding perut ibu. Nah, lewat sinyal-sinyal verbal yang dilemparkan (sinyal audio), bayi akan memberi reaksi. "Pada bayi lahir sampai usia 3-6 bulan, ada yang dinamakan refleks Moro. Jika mendengar suara keras, bayi akan bereaksi kaget dengan tangan ke atas. Bila ia tak bereaksi, mesti dicurigai si bayi tuli. Normalnya, reaksi ini menghilang di atas usia 6 bulan," tutur Adi Tagor.

Ia pun bukan cuma mampu mendengar dengan jelas setelah lahir, tetapi juga bisa melihat. Kedua indera ini (audio-visual) sangat penting baginya untuk mengembangkan intelektualitasnya. Pada bayi baru lahir, karena matanya belum jelas melihat, maka beri jarak 30 centimeter agar ia bisa melihat ekspresi Anda kala Anda berbicara dengannya.

Dalam perkembangan selanjutnya, belajar berbicara sangat penting dalam rangka pengenalan lingkungannya. Sebab itulah saat mengajaknya bicara, berikan pula banyak rangsangan pada semua panca indera bayi. Sambil bicara, misalnya, pegang atau elus tangannya (indera raba-sentuh). Dengan memfungsikan seluruh panca inderanya, bayi akan mengenal keinginannya dan kemudian dapat mengungkapkannya setelah ia mampu berbicara.

MENIRU
Satu hal penting yang harus diketahui para orangtua, kata Adi Tagor, bayi sangat suka menirukan suara. Dengan mengajaknya banyak bicara, ia akan makin banyak mengenal kata, terutama warna (timbre), nada, dan lagu/intonasi verbal. Semua ini akan sangat membantu perkembangan berbicaranya.

Di sisi lain, bayi juga senang bila Anda menirukan apa yang ia katakan. Kala ia bersuara, "Uuu," misalnya, tirukan dan ulangi kepadanya. Begitu pun jika ia bersuara, "Aaa." Permainan menirukan ini akan menjadi dasar bagi bayi untuk menirukan bahasa Anda kelak.

Lantaran itu, lulusan FKUI tahun 1963 ini menganjurkan, Anda hendaknya berbicara dengan menggunakan bahasa yang benar, tidak cadel. "Jika bayi menerima sinyal audionya enggak baik atau tak jelas, maka proses keluaran (output) pun akan jelek. Seperti memfotokopi sesuatu dokumen yang jelek," paparnya.

Selain itu, dengan menggunakan bahasa yang benar dan jelas ucapannya, di kemudian hari Anda tak perlu repot-repot melakukan "pembetulan" kata-kata yang digunakan si kecil. Sebaliknya, si kecil pun tak akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya.

PERKEMBANGAN BICARA
Sejak usia 2 bulan, terang Adi Tagor, bayi sudah bisa menirukan tinggi rendah dan lagu atau intonasi suara kita. Ia pun dapat membedakan suara satu dengan lainnya, memberi respon dengan tersenyum atau tertawa. Sampai usia 6 bulan, tampak pada bayi yang dinamakan cannonic babbling, yakni lontaran-lontaran suara atau ocehan.

Di usia 8 bulan, ia sudah mengerti beberapa suara dan kata. Hal ini sangat berguna untuk membantu perkembangan pemahamannya. Ia pun mulai bisa berteriak untuk mencari perhatian, berespon kala namanya dipanggil, dan tertarik saat ada orang berbicara meski tak langsung tertuju pada dirinya.

Di usia 9 bulan, normalnya si bayi sudah bisa bicara dalam arti word (kata) seperti "mama", "mimi", "pus", yaitu nama yang merujuk kepada sesuatu maksud atau benda tertentu. Setelah umur setahun lebih, ia memiliki paling banyak 10-20 kata. "Lebih banyak dari itu berarti lebih bagus brain development-nya," ujar Adi Tagor.

Bila konsentrasinya mulai ditujukan pada "pelajaran" berjalan, maka untuk sementara kemajuan berbicaranya menurun. Kendati demikian, tutur Adi Tagor, "Perkembangan bahasa setiap bayi tak selalu sama. Ini tergantung berbagai aspek, yaitu aspek genetik perkembangan fisik yang berkaitan dengan kemampuan berbicara dan kemampuan intelektualitas, serta rangsangan dari lingkungan." Karena itu, lulusan Public Health National University of Singapore ini menekankan pentingnya peran ayah, ibu, dan orang lain di sekeliling si bayi untuk selalu mengajaknya bicara.

RANGSANGAN DINI
Tapi bagaimana jika si bayi tak juga menunjukkan respon untuk berbicara kala Anda mengajaknya ngobrol? Menurut Adi Tagor, ada beberapa sebab. Boleh jadi karena pendengarannya mengalami gangguan atau malah sama sekali tak bisa mendengar alias tuli. Bisa pula karena perkembangan otaknya (brain development) yang terganggu, sehingga perbendaharaan kosa katanya sangat minim.

Kemungkinan lain, ia menderita autisma, yakni ketidakmampuan berkomunikasi dengan lingkungan, asyik dengan dirinya sendiri, dan tertutup terhadap lingkungan.

Tapi Anda jangan panik dulu! Sejauh anak menirukan atau tak berhasil menirukan ucapan Anda, kemungkinan besar ia tak mengalami gangguan apapun. Yang penting, ia tetap menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dengan lingkungan. Misalnya dengan menggunakan bahasa isyarat (body language), menunjuk sesuatu yang diinginkan atau mendorong sesuatu untuk menjauhkan dari yang tak disukainya.

Anda harus mendukung "bahasa khusus" tersebut bahwa kita mengerti apa yang dimaksud si bayi. Tentu saja tanpa melupakan tujuan akhirnya, yaitu percakapan yang sebenarnya. Jadi, manakala si bayi menunjuk pada botol susu, misalnya, jangan langsung membuatkannya susu dan kemudian memberikannya. Lebih baik tanyakan dulu, "Adi mau susu?" Tunggulah responnya. Jika ia mengerti pertanyaan Anda, ia mungkin akan mengangguk atau kembali menunjuk botol susu sambil mengeluarkan suara yang berarti, "Ya, Adi mau susu."

Beberapa anak pada tahap ini hanya sulit untuk membentuk kata-kata. Hal ini biasanya akan terus berlanjut sampai masa prasekolah. Kadang sampai masa Taman Kanak-kanak atau kelas satu Sekolah Dasar, bila Anda tak segera mengatasinya. Nah, untuk mencegah keterlambatan berbicara, lakukan rangsangan dini (early stimulation), yakni membawa si bayi berkonsultasi ke klinik tumbuh kembang.

Pilihan lain, masukkan ia ke "sekolah". "Bayi usia 6 bulan sudah bisa dimasukkan ke play group dini untuk peer education," ujar Adi Tagor. Anak ditarik pada sebayanya (peer stimulation), sehingga belajarnya akan lebih mudah, karena ada rasa perlu bersaing dan ingin sama dengan teman sebaya.

sumber : tabloid nakita

Sabtu, 09 Januari 2010

Kenali Gejala Diare pada Anak

Apakah Anda tahu apa yang dapat disembuhkan oleh sejumput garam, segenggam gula dan sebotol air bersih? Beberapa dari Anda mungkin tahu jawabannya, bahwa hal-hal tersebut di atas merupakan resep paling mudah untuk mengatasi dehidrasi guna menyembuhkan diare pada anak-anak.


Diare yang menyerang anak dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Gejala-gejala berikut ini perlu diperhatikan apabila diare terjadi pada anak di bawah usia 6 bulan:

• Terdapat darah pada kotoran saat buang air
• Muntah berkali-kali
• sakit perut
• frekuensi buang air kecil berkurang (menggunakan kurang dari 6 popok per hari)
• tidak keluar air mata saat menangis
• hilangnya nafsu untuk mengkonsumsi air minum
• demam tinggi
• diare/buang air berkali-kali
• mulut kering dan lengket
• berat badan turun

Tidak selalu dianjurkan ke dokter jika si anak terlihat membaik meskipun ada gejala:
• sering buang air, ukuran kotoran besar
• banyak gas intestinal
• kotoran berwarna kehijauan atau kekuningan

Biasanya, diare ringan berlangsung selama 3 sampai 6 hari. Terkadang anak-anak akan mengalami mencret hingga beberapa hari ke depan. Asalkan sang anak tampak segar dan terus mengkonsumsi cukup cairan dan makanan, mencret tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Anak-anak sebaiknya terus mengkonsumsi makanan sehat termasuk formula atau susu saat mengalami diare ringan. Menyusui pun harus terus berlanjut.

(Dikontribusikan oleh Samitivej Hospital, Bangkok, Thailand)

© FlyFreeForHealth2009.


Beginilah Tahapan Bayi Belajar Berkomunikasi

Tahun pertama bayi merupakan masa penuh perubahan yang cepat. Sekali waktu ia hanya bisa berbaring dan menangis, namun tak lama kemudian ia sudah belajar berjalan. Dari senyuman pertamanya, gumamannya, dan ucap kata pertamanya, hingga ia berusaha mengucapa "mama" atau "papa", itu merupakan pertanda usaha untuk berkomunikasi.

Sepanjang tahun pertamanya, Anda bisa mencoba untuk membantunya berusaha untuk melatih kemampuan komunikasinya. Caranya; Anda hanya perlu tersenyum, bicara, bernyanyi, dan membaca kepada si bayi.


Hal ini menjadi penting karena kemampuan berbicara dan berbahasa anak berhubungan dengan kesuksesan si kecil untuk membaca, menulis, dan kemampuan interpersonalnya, baik di masa kanak-kanaknya hingga ia dewasa nanti.

Cara dan kapan waktu bayi bisa mengucapkan kata pertamanya berbeda antara satu bayi dengan yang lain. Ada yang bisa mengucapkan beberapa kata di usia 12 bulan, namun, ada pula yang baru bisa mengucap kata pertamanya di usia 18 bulan. Namun, kira-kira rentang tahapan bayi berkomunikasi adalah sebagai berikut;

* 1-3 bulan: Bayi sudah mulai menyukai suara Anda dan mulai bisa tersenyum, tertawa, terdiam, dan bersemangat sambil mengibaskan tangan mereka ketika Anda bicara atau bernyanyi untuknya. Cara berkomunikasi dimulai dengan ia bergumam dan terlihat seperti bermain dengan air liurnya, berucap "uuu", di usia sekitar 2 bulanan.

Tak pernah terlalu cepat untuk mulai membaca kepada bayi Anda. Dibacakan cerita membantu menstimulasi otak yang berkembang. Banyak bayi yang merasa nyaman ketika diperdengarkan musik, dan mulai mengenali lagu-lagu ringan dengan bereaksi lewat senyuman, bergumam, dan mengayunkan lengan serta kaki.

* 4-7 bulan: Bayi mulai menyadari akan adanya dampak dari berbicara dengan orangtuanya. Mereka akan bergumam dan melihat adanya timbal balik reaksi dari orangtuanya. Bayi akan mulai banyak bereksperimen dengan suara dan intonasi. Mereka akan mulai mencoba menaik-turunkan tinggi suaranya seiring ia bergumam, sama seperti ketika ia mendengar orang dewasa bertanya atau menaikkan nada suara.

Di usia ini, Anda bisa mulai mengangkat benda dan menyebutkan namanya. Bacakan buku-buku dengan gambar-gambar kepada bayi Anda. Tunjukkan gambar-gambar tersebut dan mulai sebut nama-nama yang mudah dan singkat. Hal ini akan membantunya membangun kemampuan berbahasa dan membaca. Berlatihlah menggunakan kata-kata singkat, kemudian berhenti. Ini akan memberikan kesempatan si kecil untuk merespon dengan bahasanya, sekaligus melatih interaksi yang kemudian akan ia perlukan di masa dewasa.

* 8-12 bulan: Merupakan keriaan tersendiri bagi para orangtua ketika mendengar si bayi memanggil Anda dengan "mama" atau "papa" untuk pertama kalinya. Namun kali pertama bisa saja terucap tanpa sengaja. Di usia ini bayi umumnya akan mencoba mengucap kata "ga-ga", da-da", atau "ba-ba".

Jangan bosan untuk mengajarnya dan mengulang kata-kata yang mudah sambil sesekali diselip senyuman pada wajah Anda. Ini akan membantu si kecil menyimpan memori itu dan mengerti arti dan nama dari benda-benda yang Anda perkenalkan padanya. Di tahapan ini, si kecil akan senang untuk berinteraksi satu lawan satu dengan Anda. Si kecil juga suka bermain dan menyanyikan lagu-lagu mudah untuk anak-anak.


sumber : http://female.kompas.com

Rabu, 06 Januari 2010

Kenali Tanda Stres pada Bayi

Tak mudah mengenali tanda-tanda stres pada bayi (0-12 bulan) karena keterbatasan cara berkomunikasinya. Lantaran itu, orangtua sebaiknya peka akan perubahan perilaku bayi. Tanda-tanda stres yang dapat dikenali pada bayi adalah:

- Kerewelan atau tangisan yang berkepanjangan.
- Tidur gelisah, sebentar-sebentar terbangun.
- Nafsu makan/minum menurun. Atau ketika ditimbang pertambahan berat badannya tidak menggembirakan, bahkan mungkin menurun.
- Ketika diajak bermain, seperti tak bersemangat atau malah menangis.
- Maunya selalu digendong dan tak mau ditinggal.
- Menunjukkan perilaku agresif dengan merebut atau memukul.
- Memalingkan wajah atau menangis ketika melihat ibu/ayah karena merasa Anda tak memerhatikannya.



Penyebab stres

- Merasa tak nyaman
Stres pada usia bayi sebenarnya lebih cenderung sebagai respons ketidaknyamanan yang dialami secara berkepanjangan. Misalnya celana basah atau kotor karena pipis atau pup, namun tidak lekas ditangani.
Solusi:
Peka akan kebutuhan bayi dengan selalu cepat merespon apa yang menjadi kebutuhannya.

- Sakit
Kemungkinan juga bayi merasa tak nyaman karena mengalami sakit.
Solusi:
Periksakan si kecil pada dokter. Untuk mengurangi ketidaknyaman pada tubuhnya, sering-seringlah memeluk tubuhnya. Jangan lupa untuk memberikan ASI karena ada zat kekebalan tubuh alami terkandung di dalamnya.

- Merasa diabaikan
Contoh yang paling sering ditemui yakni setelah cuti melahirkan selesai, ibu harus kembali bekerja, sehingga pengasuhan diserahkan pada sosok pengganti. Hal ini menyebabkan bayi kehilangan sesuatu yang membuatnya aman dan nyaman.
Solusi:
Persiapkan sedini mungkin sehingga bayi tidak merasa ditinggalkan begitu saja. Tentukan siapa yang akan mengasuhnya. Pastikan ia mendapatkan pengasuhan dan perawatan yang baik dan nyaman. Usai ibu bekerja, berikan kenyamanan dengan cara memeluk, mencium, dan mengajaknya bermain.

- Overstimulasi
Hal ini kerap tidak disadari orangtua karena khawatir bayinya kurang mendapat stimulasi seperti yang dianjurkan para pakar.

Solusi:
- Peka terhadap tanda-tanda kebosanan yang ditunjukkan anak. Contoh, bayi yang sudah bosan umumnya akan rewel atau memberontak ingin bebas dari pegangan kita.
- Ketahui tahapan perkembangan anak per usia. Dengan begitu, kita mengetahui kemampuan apa saja yang sudah harus dikuasai anak dan kemampuan mana yang belum saatnya diajarkan.

- Kepanasan atau kedinginan
Perubahan cuaca yang sangat drastis atau tidak menentu bisa juga menyebabkan si kecil stres. Suasana rumah yang terlalu ramai juga kerap kali membuat si kecil merasa tidak tenang.

Solusi
Antisipasi sebelum masalah datang. ketika cuaca sedang terik, kenapakan anak baju tipis atau nyalakan AC jika perlu. Atau jika rumah didatangi banyak orang, carikan ruangan yang kira-kira masih memungkinkan untuk bayi beristirahat.

sumber : www.kompas.com

Mengulang-ulang Bikin Anak Pintar

Memang, kalau dilihat dan diamati, lucu juga perilaku mengulang-ulang di usia batita ini. Tidak jarang kita dibuat tertawa olehnya tetapi sering pula kita menjadi kesal karenanya. "Kalau keseringan dan terus-menerus, bete juga menanggapinya apalagi meladeninya. Bayangkan saja, masa setiap si kecil mau tidur saya harus membacakan dongeng si kancil yang sama. Sudah 3 bulan, lho," cerita seorang ayah dengan nada gemas.

Menanggapi kebiasaan di usia batita itu, Ceti Prameswari Psi., dari LPT UI ikut urun rembug memberikan pandangan dari sudut keahliannya sebagai psikolog. Menurutnya, orangtua harus paham bahwa di usia batita, anak sedang mengalami masa eksplorasi. "Ia tengah mendengar dan melihat hal-hal baru yang selama ini belum masuk ke perbendaharaan wawasannya. Sesuatu yang baru ini akan menjadi daya tarik baginya. Nah, mengulang-ulang sesuatu merupakan salah satu cara bagi anak usia batita dalam menunjukkan minat atau ketertarikannya pada hal tersebut," ungkap Ceti.

Masa ini menurutnya merupakan momen yang baik untuk memberikan pengalaman yang beragam kepada si batita. Sebab itulah Ceti menyarankan kepada kita semua untuk tidak membatasi minat anak pada sesuatu hal. "Pahami saja perilaku mengulang anak sebagai bagian dari cara dia mempelajari hal-hal baru."

Ceti mengerti, orangtua mungkin akan merasa bosan dengan apa yang diulang-ulang oleh anaknya itu, bahkan tak jarang orangtua yang merasa terganggu. "Tapi ingat apa yang kita simpulkan tersebut adalah buah pikir orang dewasa, bukan anak. Anak berpikir dan melihat dunianya dengan cara yang berbeda dari kita orang dewasa."

Dengan mengulang-ulang seperti itu, sejatinya anak belum cukup paham dan puas mencari apa yang ingin diketahuinya. Lama-lama, seperti halnya orang dewasa, dengan mengulang-ulang dia akan mampu memahami dan bisa memenuhi rasa ingin tahunya," Ceti menambahkan.

Tugas kita sebagai orang dewasa adalah mendampingi anak dan memberikan kesempatan bereksplorasi seluas-luasnya. Jangan halang-halangi anak untuk mengulang-ulang sesuatu yang disukainya. Orangtua justru harus memberikan waktu dan memenuhi keinginan anak jika ia ingin mengulang sesuatu. Sebab dengan begitu dia belajar sesuatu hal yang baru dan penting baginya.

Tak hanya pengetahuan, perilaku menglang juga membuat anak terampil. Contoh, karena sering minta diputarkan film favoritnya, anak jadi tahu tahapan memutar DVD di komputer atau DVD player. Saat yang kesekian kalinya, dia bisa saja sudah tidak perlu pertolongan orang dewasa karena mampu menyalakan dan memutar sendiri film yang ia mau.

Selain meniru apa yang dilihatnya, pengulangan juga membuat anak mampu meniru apa yang didengarnya. Hal ini sangat membantu perkembangan kemampuan berbahasanya.

Ada Batas
Namun, Ceti menambahkan keterangannya, anak yang terlalu fokus mengulang-ulang hal yang sama akan kurang baik hasilnya. Orangtua perlu memberikan pengalaman baru yang dapat membuka wawasan anak terhadap banyak hal. Jika si kecil sudah terlalu sering minta didongengi cerita Kancil, misalnya, pancinglah minatnya untuk menikmati cerita lain yang bermanfaat dalam membuka wawasannya. Lihatlah reaksinya dan tanyakan pendapatnya; apakah ia suka atau tidak, mengapa ia suka atau tidak suka, dan seterusnya.

Hal ini penting, karena menurut Ceti, orangtua perlu mengetahui bagaimana anak memaknai hal-hal baru yang dilihat/didengarnya. "Jika ada pemahaman anak yang keliru, kita bisa segera mengoreksinya. Misalnya, kalau anak minta diputarkan film Transformers setiap hari selama seminggu, kita perlu menggali sebetulnya apa sih yang menarik dari film tersebut. Apakah bentuk robot-robotnya, relasi robot-robot Transformers dengan manusia, atau yang lainnya?"

Agar dapat memberikan masukan yang tepat kepada anak, orangtua harus ikut menyelami apa yang sedang dieksplorasi anak. Bijaklah menghadapi perilaku mengulang-ulang si batita jika tujuannya untuk mencuri perhatian. Biarpun bikin kesal, anak merasa ulahnya berhasil membuatnya diperhatikan. "Bunda kan sibuk terus, aku minta diputarkan lagu kemarin saja, deh yang tidak disukai Bunda." Jika si Bunda terpancing dan akhirnya mengomel, berarti si batita berhasil mendapatkan perhatian meski dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Ceti menganjurkan agar sabar dan tidak cepat kesal menghadapi si kecil yang senang mengulang-ulang apa pun seolah tak ada bosannya. Justru artinya, ia sedang belajar. Jadi saat mendampinginya, tidak ada cara yang paling tepat selain meladeni, memfasilitasi, dan memberikan pengalaman-pengalaman baru.

(Gazali Solahuddin/Tabloid Nakita)


Merawat Kulit Bayi Baru Lahir

Kulit bayi yang baru lahir masih sangat tipis dan rentan. Banyak hal bisa merusak kulit bayi dan mempengaruhi kesehatannya. Bahan-bahan kimiawi, wewangian, dan pewarna dari deterjen, dan produk-produk bayi bisa mengganggu kesehatan dan kulit bayi. Tak heran jika bayi baru lahir seringkali mengalami kulit iritasi, kekeringan, kulit pecah-pecah, dan ruam.

Keuntungan untuk kesensitivitasan kulit bayi adalah setiap sentuhan Anda akan membuatnya merasa dimanja, dijaga, dan diberikan kenyamanan, hal-hal ini sangat penting dalam perkembangan bayi.


Kulit bayi yang baru lahir cenderung berkeriput dan memiliki lapisan pelindung tipis (vernix) yang akan lepas perlahan. Ini merupakan proses alamiah yang terjadi di minggu pertama bayi. Tak perlu dipaksa untuk membuat kulit-kulit tersebut lepas, jangan digosok atau dibantu melepasnya dengan lotion atau krim. Namun, ada kondisi ketika bayi lahir melebihi waktu perkiraan, proses pelepasan kulit ini akan terjadi saat bayi masih berada dalam rahim.

Untuk perawatan kulit bayi baru lahir, yang alami lebih baik. Para dokter anak menyarankan untuk tidak memandikan bayi baru lahir terlalu sering. Terlalu sering terpapar oleh zat kimia bisa membangun sistem alergi di kehidupan di masa mendatang si bayi. Terlalu sering memandikan si bayi bisa menghilangkan minyak alami kulit yang melindungi kulit bayi. Jika ini terjadi, maka kulit bayi akan jadi sangat rentan, tak heran jika terjadi eksim pada kulit bayi.

Disarankan pula untuk Anda tidak menggunakan produk-produk bayi di awal bulan kehidupan si bayi. Sistem imun tubuh si bayi masih dalam perkembangan. Jika Anda memiliki sejarah keluarga masalah kulit, alergi, atau asma, akan sangat bijaksana untuk melindungi sistem imun tubuh si bayi, sekaligus melindungi si bayi dari hal-hal yang bisa mencetus alergi.

Amat disarankan untuk mencuci pakaian bayi sebelum digunakan. Hanya gunakan deterjen khusus pakaian bayi yang bebas dari pewangi dan pewarna. Cucilah segala kain yang berhubungan langsung dengan kulit bayi secara terpisah dari pakaian keluarga. Tambahkan bilasan air agar benar-benar memastikan pakaian tersebut terbebas dari zat kimiawi.

Kecuali karena air liur dan kotorannya sendiri, tubuh bayi yang baru lahir tidak terlalu kotor. Dalam keadaan nyaman, bayi tidak terlalu banyak berkeringat. Untuk satu bulan pertama, lap tubuhnya dengan spons dua-tiga kali seminggu sudah cukup untuk menjaga kebersihan si bayi. Sesekali, coba lap bagian dalam mulut bayi dan daerah popok dengan sedikit air atau pembersih.


Memilih mainan anak

Saat Anda memasuki toko mainan anak, Anda mungkin terpana melihat begitu banyaknya jenis mainan edukatif kayu yang disediakan. Begitu banyak, hingga Anda mengurungkan niat untuk membeli mainan edukatif dari penjual mainan edukatif untuk anak Anda. Toh, si kecil juga tetap asyik meskipun "mainannya" hanya toples berisi permen yang berulangkali dituang dan dimasukkan kembali. Atau, serbet yang berulangkali diseretnya dengan kaki ke sana-kemari. Namun, Anda perlu mengingat, mainan edukatif anakyang baik haruslah yang mendorong tumbuh-kembang anak. Mainan kayu dari penjual mainan tersebut juga harus disesuaikan dengan karakter anak. Apa yang cocok untuk anak lain, belum tentu disukai anak Anda. Mainan tidak boleh terlalu sulit, karena akan membuatnya frustrasi. Jika puzzle game terlalu mudah, akan membuatnya bosan. Berikut adalah beberapa permainan sesuai usia anak :


Usia 0-1 tahun

Pastikan game puzzle tidak mudah terbakar, tidak beracun, dan dapat dicuci. Boneka binatang sebaiknya merupakan satu bagian; bila ada tangan atau kaki juga tersambung dengan aman. Bagian wajah sebaiknya dilukis atau dibordir, sehingga tidak ada mata dari kancing yang bisa ditarik dan dilepas lalu ditelan. Mainan yang kecil dan ringan lebih mudah dipegang dan dipeluk oleh anak usia ini.

Usia 12-18 bulan

Pada tahap ini, bayi sudah bisa berdiri dan duduk, namun ada yang belum bisa berjalan sendiri. Mereka senang memindah-mindahkan mainan edukatif, seperti mainan edukatif anak dari penjual mainan edukatif yang bisa ditarik-ulur dan menimbulkan bunyi, mainan anak dari penjual mainan yang bisa dibuka-tutup, memencet tombol, dan main ciluk-ba. Bayi juga senang bermain menyusun mainan kayu kotak, namun pilih puzzle game kotak yang ditutup dengan kain yang lembut dan ringan. Tak perlu menyediakan terlalu banyak puzzle kotak, karena akan membingungkan anak.

Usia 18-24 bulan

Anak usia ini sudah mulai berbicara, dan tertarik dengan ukuran mainan edukatif kayu dan peletakan barang. Menyusun mainan kotak berukuran besar akan menarik hatinya. Mulailah dengan satu set berukuran kecil, dan ganti dengan yang berukuran besar begitu minat anak berkembang. Kotak yang diberi wadah membuatnya asyik memasukkan dan mengeluarkan.

Usia 2-3 tahun

Anak sudah semakin kreatif. Mereka menyukai kegiatan orang dewasa, dan game yang realistis akan menstimulasi otak mereka. Kelompok usia ini juga menggemari mainan yang membutuhkan gerak dan ketangkasan.

Usia 3-5 tahun

Anak-anak usia ini mulai menikmati kegiatan menggambar, mencoret-coret, dan memberi warna. Memberikan kertas dan krayon juga akan mendorong kemampuannya menulis. Mencoret-coret akan meningkatkan imajinasi dan kreativitas, dan menjadi sarana yang baik untuk mengekspresikan emosinya.

sumber : http://female.kompas.com/

Senin, 04 Januari 2010

Cara Menyimpan ASI

Karakteristik dan Aroma Pada ASI
Banyak orang membayangkan bahwa ASI tampak seperti susu sapi yg homogen, yang tidak terpisah lapisannya sampai kapanpun (homogenized) . ASI akan terpisah menjadi 2 lapisan jika didiamkan selama beberapa lama. Lapisan atas yg biasanya lebih kental warnanya kaya akan lemak. Ini bukan berarti ASI telah basi. Kocoklah perlahan wadah berisi ASI peras tsb, hingga menjadi larutan homogen kembali.

Tampilan dari ASI berbeda2 sesuai dengan waktu dan kandungannya. Termasuk kandungan lemak dan warna dari ASI. Jumlah lemak dalam ASI akan fluktuatif dari hari ke hari. Bahkan saat ASI yg keluar di menit2 awal akan berbeda warna dan tampilannya. ASI yang dikeluarkan saat pertama kali proses pemerahan / pemompaan akan terlihat "lebih encer" dari ASI yang dikeluarkan di menit2 berikutnya. Karena itu disebut FOREMILK (kaya akan protein). Sedangkan ASI yg keluar beberapa menit kemudian akan terlihat lebih kental. Atau disebut juga dengan HINDMILK (kaya akan lemak). Warna dari ASI juga bervariasi tergantung dari apa yg ibu konsumsi. Pewarna makanan dalam minuman soda, minuman buah2an dan hidangan penutup yang mengandung gelatin diduga akanmembuat warna ASI menjadi pink atau oranye kemerahmudaan. ASI yang berwarna hijau dikorelasikan dengan ibu yang mengkonsumsi minuman segar yang berwarna hijau, seperti rumput laut, atau sayuran berwarna hijau.



ASI yang berwarna pink mengindikasikan adanya darah dalam ASI. Hal ini dapat terjadi jika ibu mengalami dengan atau tanpa puting lecet. Jika puting ibu lecet dan berdarah, ibu dapat menghubungi klinik laktasi untuk mendapatkan saran penyembuhan. Darah dalam ASI tidak berbahaya bagi bayi, dan ibu dapat terus menyusui. Jika darah dalam ASI tidak juga membaik dalam waktu 2 minggu, segera konsultasikan dengan dokter.
Bagaimana dg aroma atau rasanya ?! Umumnya ASI segar berbau / beraroma manis. Sesekali ASI beku yang dicairkan akan beraroma spt sabun dan terkadang bayi tidak mau meminumnya. Hal ini disebabkan perubahan struktur lemak dalam ASI akibat perubahan suhu yg mendadak. Sehingga proses kerja enzim lipase terganggu. Karena itu tidak disarankan memanaskan ASI peras/pompa pada suhu tinggi, ataupun setelah dipanaskan langsung dibekukan kembali. Jika ASI peras berbau asam, maka bisa jadi ASI telah basi dan buanglah. Intinya selama ASI peras/pompa disimpan sesuai dengan tata cara penyimpanan yg benar maka ASI tidak akan basi.

Wadah penyimpanan ASI
Pertanyaan yg sering diajukan para ibu, terutama ibu bekerja adalah apakah butuh wadah khusus ? Tidak ada aturan khusus harus menggunakan botol atau wadah khusus. Intinya gunakan wadah yg bisa tertutup rapat. Ibu bisa menggunakan botol kaca, wadah yg punya tutup dan berwarna bening, dan wadah yg punya tutup dan berwarna. Dan tentu saja selalu dibersihkan & disterilkan sebelum digunakan.

ASI peras/pompa sebaiknya disimpan dalam jumlah sedikit (cukup utk sekali minum + 60 ml). Agar tidak ada ASI yg tersisa dan terbuang. ASI juga dapat disimpan dalam kantung plastik bening. Namun hal ini tidak terlalu disarankan, karena mudah bocor dan ASI akan terbuang.

Tata cara Menyimpan ASI
Organisasi laktasi internasional, Lalecheleague, memiliki kisaran waktu berapa lama ASI dapat disimpan dalam suhu tertentu :
* Suhu ruang (19 – 22C ) antara 4 sampai 10 jam
* Refrigerator (kulkas bawah) dg suhu 0 – 4C antara 2 sampai 3 hari. Freezer pd kulkas berpintu satu (suhu variatif < 4C ) : bisa sampai 2 minggu
* Freezer pd kulkas berpintu dua (suhu variatif < 4C ) : 3 sampai 4 bulan
* Freezer khusus ( -19C ) : 6 bulan atau lebih
Interval waktu tsb amat sangat bervariatif tergantung kondisi dari lokasi penyimpanan.
Meski dapat disimpan lebih lama, disarankan agar tidak terlalu lama menyimpan ASI peras. Karena ASI diproduksi sesuai dg kebutuhan pertumbuhan & perkembangan anak. Karennya jika ibu memilki ASI peras berlebih tidak ada salahnya didonorkan ke mereka yang membutuhkannya.

Jika tidak ada lemari pendingin
Ada atau tidaknya lemari pendingin/kulkas bukan hambatan bagi ibu utk menyimpan ASI. Artinya jika ditempat ibu bekerja ataupun saat ibu bepergian jauh utk waktu lama dan tidak ditemukannya kulkas, maka ibu dapat menyimpan botol (wadah) berisi ASI peras/pompa dalam termos es yg telah diisi es batu tentunya. Jika es batu mencair, ibu bisa menggantinya lagi. Atau ada juga cooler khusus utk mendinginkan lebih lama dg blue ice.

Tips memberikan ASI peras/pompa
Berikut tips singkat utk memberikan ASI yg telah disimpan bagi si kecil :
* Untuk ASI yg dibekukan (dari freezer), amat disarankan agar ASI dicairkan terlebih dahulu di kulkas bawah. Dan bukan di suhu ruang. Setelah mencair, aliri wadah berisi ASI pada kran air hangat atau rendamlah dengan air hangat.
* JANGAN menghangatkan ASI dalam suhu tinggi. Dan JANGAN merebus ASI.
Karena jelas zat nutrisi dalam ASI akan rusak. Terutama zat anti infeksi / zat imun !
* JANGAN menggunakan microwave utk menghangatkan ASI.
* Kocoklah secara perlahan sebelum diberikan ke bayi.
* Berikan dg sendok, pipet, dsb. Untuk bayi < 4 bl disarankan utk tidak menggunakan dot, karena adanya resiko bingung putting . ASI yg tersisa jika ingin disimpan kembali di refrigerator sebaiknya digunakan < 24 jam. Meski hal ini tidak direkomendasikan. Karena itu simpanlah ASI dalam jumlah yg cukup (sekali minum) agar cairan emas tsb tdk terbuang.
Dengan mengetahui cara menyimpan ASI dan karakteristiknya, semoga semakin banyak ibu2 yang bekerja maupun yang akan bepergian tidak ragu lagi / segan dalam memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya.


Rabu, 30 Desember 2009

10 PERTANYAAN UNJUK GIGI

Dari "kok bayiku belum tumbuh gigi?" hingga "apakah dot memang dapat mengakibatkan gigi bayi tonggos?" dijawab oleh drg. Eva Fauziah Sp.KGA., dari Fakultas Kedokteran Gigi Anak, Universitas Indonesia.

1. Mengapa gigi bayiku yang berusia 9 bulan belum tumbuh, sementara bayi lain sejak usia 6 bulan sudah tumbuh?
Erupsi (pertumbuhan gigi) pertama pada bayi umumnya terjadi pada usia 6-8 bulan. Namun masih belum dikatakan terlambat bila di atas usia tersebut (dalam hal ini 9 bulan) bayi belum mengalami erupsi. Erupsi gigi pertama bisa ditoleransi hingga usia 12 bulan. Barulah jika sampai lebih dari usia itu belum terjadi erupsi, maka perlu dicari tahu penyebabnya. Keterlambatan bisa dikarenakan kelainan atau ketidaksempurnaan pertum-buhan gigi.

2. Mengapa ketika tumbuh giginya, bayi kerap rewel. Bahkan ada yang sampai demam?
Erupsi gigi bisa menimbulkan gejala demam yang tak terlalu tinggi atau sumeng selama 1-2 hari. Mengapa? Karena gigi akan menembus lapisan gusi yang keras, untuk itu diperlukan energi yang kuat. Nah, sebagai reaksinya, terjadilah demam. Erupsi gigi juga kerap membuat bayi mengeces dan gusinya gatal. Lantaran itu pulalah bayi jadi kerap menggigit-gigit sesuatu. Untuk membantu mengurangi rasa gatal tersebut, coba berikan teether. Mainan ini umumnya bisa sekaligus bermanfaat untuk merangsang erupsi gigi bayi.



3. Benarkah asupan kalsium semasa hamil akan memengaruhi cepat-lambatnya erupsi gigi susu?
Benar. Salah satu faktor yang memengaruhi waktu kemunculan gigi adalah asupan kalsium selagi ibu hamil. Namun, tidak berarti ibu yang lebih banyak mengonsumsi kalsium akan melahirkan bayi dengan pertumbuhan gigi yang lebih cepat. Bagaimanapun juga, daya serap kalsium setiap janin berbeda-beda. Selain itu, asupan kalsium pun dibutuhkan oleh pembentukan dan pertumbuhan tulang.

4. Jika sejak lahir si kecil sudah punya gigi susu, haruskah dicabut?
Erupsi gigi susu yang terjadi lebih dini dianggap sebagai kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi. Contohnya, bayi yang pada saat lahir sudah memiliki gigi. Gigi yang dikenal dengan gigi natal ini tempat tumbuhnya tidak tentu; bisa di bagian depan atas atau bagian bawah, meski jarang di bagian belakang. Banyaknya gigi umumnya satu buah. Ada juga erupsi gigi dini yang terjadi pada bulan pertama setelah kelahiran. Pada kasus kedua yang disebut sebagai gigi neonatal ini belum tentu bayi mengalami gejala sakit tumbuh gigi. Penanganan dilakukan dengan melihat apakah gigi erupsi dini mengganggu atau tidak. Jika tidak, maka akan dibiarkan.

5. Apa yang harus dilakukan orangtua bila sampai usia satu tahun, si kecil belum mengalami erupsi gigi?
Bawalah ia ke dokter gigi untuk memastikan kondisinya. Pemeriksaan foto rontgen bisa memberi kepastian masalah ini. Dokter umumnya akan melakukan tin-dakan pemeriksaan klinis mulut anak; apakah pada gusi terlihat penonjolan-penonjolan yang merupakan tanda akan tumbuhnya gigi. Bila ada, akan ditunggu sampai beberapa minggu. Selama proses tersebut sebaiknya dilakukan kontrol secara periodik, satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan. Bila hasil foto rontgen menunjukkan tidak terdapat benih gigi susu (agenesis gigi susu), maka sampai usia berapa pun tak akan terjadi erupsi. Namun, mungkin saja gigi tetap akan tumbuh tanpa sebelumnya didahului gigi susu. Kalau benih gigi tetap pun tidak ada, maka harus dibuatkan gigi tetap tiruan. Penyebab terjadinya kelainan pertumbuhan ini biasanya adalah faktor genetik bukan akibat kekurangan zat gizi tertentu.

6. Perlu tidak membersihkan lidah dan gusi bayi setiap usai menyusu?
Bayi usia 0-6 bulan umumnya belum memiliki gigi susu. Namun begitu, kegiatan membersihkan lidah dan gusinya harus dilakukan begitu selesai menyusu dan sebelum tidur malam. Sisa-sisa susu yang mengumpul di lidah, bila tidak dibersihkan, akan menjadi tempat berkembang biak bakteri dan jamur.

7. Bagaimana cara membersihkan gigi bayi?
Bila gigi susu bayi sudah muncul, gunakan kasa basah atau sikat gigi mungil. Posisikan bayi duduk di pangkuan. Tidak perlu mengguna-kan pasta gigi. Pasta digunakan bilamana anak sudah dapat meludah. Ukuran pasta sebaiknya tidak lebih dari sebiji jagung.
Bersihkan gigi dengan arah vertikal maupun horisontal. Yang penting seluruh permukaan gigi, baik bagian luar maupun dalam (yang menghadap ke lidah), dan sela-selanya ikut dibersihkan. Sebaiknya menggosok gigi 2 kali sehari, setelah minum susu/makan di pagi hari dan sebelum tidur malam.

8. Apakah penggunaan dot ortodontik semasa bayi dapat membantu pembentukan gigi anak kelak?
Dot ortodontik sebetulnya hanya alat bantu bagi bayi untuk menuju perkembangan rahang dan gigi yang baik. Istilah ortodontik sendiri berarti meratakan gigi. Namun, seberapa jauh pengaruh dot ortodontik itu bagi pertum-buhan dan perkembangan gigi bayi, sebenarnya tak terlalu signifikan. Tempat gigi adalah di rahang dan berhubungan dengan lengkung gigi. Jika lengkung rahangnya sempit dan giginya besar-besar, pasti giginya berantakan dan berjejal. Perlu diingat pula, perkembangan rahang dan gigi tak lepas dari faktor genetik.

9. Apakah penggunaan dot yang terlalu lama dapat menyebabkan masalah pada gigi anak, tonggos misalnya?
Jika dipakai dalam masa yang tidak terlampau lama, dot memang tak akan menimbulkan masalah pada bentuk rahang anak. Lain hal jika kebiasaan itu berlangsung terus hingga usianya menjelang 2 tahun. Penggunaan dot yang berlebihan bisa mengubah bentuk rahang dan posisi gigi. Sebab, selama mengisap dot/empeng, rahang atas anak cenderung maju ke depan, se-dangkan rahang bawahnya cen-derung masuk. Sebagai dampaknya, gigi pun jadi tonggos. Keadaan ini juga akan diperparah bila posisi tumbuh gigi cenderung miring ke depan. Dengan demikian, akibat mengedot ini dapat terjadi pula perubahan posisi gigi susu yang akan diikuti dengan gigi tetapnya.

10. Mengapa ada gigi bayi yang berwarna keabu-abuan atau tidak putih bersih ketika tumbuh?
Gigi sulung/gigi susu bayi umumnya bewarna lebih putih dibanding dengan gigi tetapnya nanti. Apabila warna gigi sulung tidak putih bersih hal ini dapat disebabkan oleh pengaruh sistemik saat pertumbuhan dan perkembangan gigi susu bayi sejak dalam kan-dungan. Kemungkinan lain, ibu harus mengonsumsi obat-obatan antibiotik seperti tetrasiklin selama hamil. Zat yang terdapat di dalam obat tersebut dapat mengikat bagian dentin (jaringan di bawah email; email adalah jaringan keras yang terletak pada bagian terluar gigi) sehingga memberikan efek warna tidak putih/keabu-abuan.

sumber : http://www.tabloid-nakita.com

Jumat, 11 Desember 2009

Sang Adik Datang, Si Sulung Merasa Terbuang

Siapkan mental si sulung sejak Anda mengandung adiknya. Tanpa persiapan yang matang, si sulung akan merasa disisihkan, tak lagi disayang ibu. Akibatnya, ia jadi rewel dan bahkan memusuhi adiknya.

Lahirnya si kecil biasanya menarik bagi Anda, tapi belum tentu bagi si sulung. Ia akan merasa cemburu dan kehilangan, khususnya saat ia melihat "sang pendatang baru" secara fisik berada dalam gendongan Anda seperti ia dulu mengalaminya sebagai tanda dirinya diterima. Ia akan merasa terancam dengan kehadiran adik bayi yang mungkin lebih banyak memperoleh perhatian Anda. Ia juga merasa, bila Anda benar-benar mencintainya, Anda tak butuh anak lain di rumah. Kecemburuannya terhadap kelahiran adik bisa membuat ia membenci adiknya atau bahkan memusuhinya.

Wajar-wajar saja jika ia bersikap demikian. Di usianya, anak batita memang baru belajar melepaskan diri dari ketergantungan totalnya terhadap orangtua. Ia pun masih memerlukan rasa bahwa ia diterima. Ia belum mengenal konsep berbagi. "Ini milikku!" adalah teriakan umum batita, yang digunakannya bukan cuma untuk mainan atau barang-barang lainnya, tapi juga diri Anda.

Selain itu, batita belum memiliki kecakapan bahasa untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara verbal, sehingga kurang memungkinkan baginya untuk menyatakan perasaan-perasaannya secara spesifik. Rengekan, kemarahan, dan perilaku negatif lainnya bisa merupakan indikasi ia mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi baru.

Melibatkan anak dalam banyak aktivitas Anda bersama bayi, akan menolongnya belajar berbagi. Juga, dapat meyakinkannya bahwa ia tetap menjadi bagian dalam kehidupan Anda. "Memang pada mulanya merepotkan, tapi bisa disiasati dengan bantuan orang lain seperti ayahnya atau pengasuh. Yang penting, jangan sampai Anda memberi kesan si kakak disingkirkan," pesan Dra. Shinto B. Adelar, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia DKI Jakarta. Dalam pelibatan itu, tambahnya, jelaskan pada anak bahwa ia pun dulu mengalami proses yang sama seperti adiknya. "Dengan demikian, ia akan mengerti bahwa perhatian yang Anda berikan pada adiknya memang perlu dan itu bukan berarti menyingkirkannya," lanjut Shinto.

Bagaimanapun, kelahiran bayi menuntut penjelasan jujur. Sebaiknya diberikan saat kehamilan baru saja kelihatan. "Jangan tunggu terlalu lama untuk mengatakannya pada anak. Sedapat mungkin, kabar bakal lahirnya adik, ia dengar langsung dari Anda dan bukan dari orang lain. Karena ia akan menjadi sangat cemas melihat Anda yang selalu lelah, muntah-muntah, atau kadang-kadang sakit tanpa alasan jelas," tulis Vicki Lansky dalam bukunya, Welcoming Your Second Baby.

Menurut Shinto, selain memberi tahu anak tentang bakal datangnya adik bayi, "Ajak si sulung mengikuti perkembangan kehamilan ibunya. Ceritakan apa adanya, meski kita tak yakin ia akan mengerti, apalagi jika umurnya baru setahun. Kita juga tak perlu menunggu sampai ia bertanya lebih dulu," tutur lulusan Fakultas Psikologi UI ini.

Beberapa anak usia 2 tahun mulai banyak bertanya begitu melihat perubahan bentuk tubuh ibunya. Lainnya ingin tahu lebih banyak tentang kehamilan atau merasakan gerakan bayi di perut ibu. Tapi ada pula anak yang sama sekali tak peduli dan lebih tertarik untuk segera melihat kelahiran adiknya. Apa pun, bimbinglah daya tariknya dan hadapi pilihannya tanpa kritik atau amarah. Orangtua yang mengharapkan anaknya tertarik dengan bayi yang akan lahir, biasanya akan meminta terlalu banyak. Cobalah bersikap realistis. Seorang bayi baru memang sangat menyenangkan, tapi ia juga akan menyita banyak waktu dan perhatian orangtua serta mengalihkan orangtua dari batitanya yang sedang tumbuh enerjik.

SAAT KEHAMILAN
•Jika ia menginginkan dan dokter mengizinkan, ajak ia saat melakukan pemeriksaan rutin kehamilan. Ia pasti tertarik dan senang saat mendengarkan detak jantung adiknya di kandungan Anda.
•Bawa ia saat Anda belanja keperluan bakal adiknya. Anak 2-3 tahun bisa diminta pendapatnya, mungkin soal warna atau model. Begitu pun saat menyiapkan dekorasi kamar bayi, letak boks bayi, lemari pakaian, atau warna dinding kamar. Ia juga bisa diajak mendiskusikan nama untuk adiknya yang akan lahir.
•Kukuhkan ia sebagai seorang kakak. Jangan katakan, "Kamu akan mempunyai seorang adik." tapi katakan, "Kamu akan menjadi seorang kakak."
•Jangan lakukan hal-hal yang dapat membuatnya selalu ingin bersama Anda atau menjadi tergantung pada Anda. Mulailah melatihnya untuk main atau makan sendiri sementara Anda berada tak jauh darinya. Gendong ia hanya pada saat ia benar-benar sedang butuh.
•Jika selama ini ia terbiasa seharian bersama Anda secara fisik, latih untuk "berpisah". Misal, tak mengajaknya saat Anda belanja. Ini penting agar ia tak merasa kehilangan saat Anda melahirkan dan harus menginap di rumah sakit.

MEMBICARAKAN BAYI
•Jangan berjanji padanya, adiknya pasti akan selalu menyenangkan. Katakan yang sebenarnya, seorang bayi akan minum susu sepanjang hari dan malam, mungkin akan banyak menangis, kadang juga akan rewel. Jelaskan pula, hal itu hanya sementara sebelum bayi dapat menjadi teman bermain yang menyenangkan.
•Hindari pernyataan, "Kamu pasti akan menyukai bayi." atau "Kamu nanti akan senang bermain dengan bayi." Itu hanya akan membuat ia terganggu dan menimbulkan pertentangan jika ia tak merasakan seperti yang Anda gambarkan padanya.
•Perlihatkan gambar-gambar bayi untuk mengembangkan fantasinya tentang bayi. Tunjukkan album foto-foto dirinya waktu bayi dan ceritakan bagaimana ia dulu saat kelahiran. Putarkan rekaman video dirinya waktu bayi.
•Ajak ia menemui bayi yang baru dilahirkan. Ini akan membuatnya bisa melihat secara langsung bagaimana bentuk dan rupa bayi sesungguhnya.

SEBELUM KE RUMAH SAKIT
•Katakan padanya, Anda akan ke rumah sakit dan menginap beberapa hari, tapi akan segera pulang kembali.
•Beri tahu tentang kemungkinan Anda ke rumah sakit saat ia sedang tidur atau sekolah, juga siapa nanti yang akan menemaninya selama Anda dirawat di rumah sakit.
•Libatkan ia saat Anda menyiapkan baju dan perlengkapan lain yang akan dibawa ke rumah sakit.
•Katakan padanya, Anda akan meneleponnya setiap hari dari rumah sakit dan ia pun boleh menelepon Anda.
•Letakkan foto Anda di kamarnya. Juga, tunjukkan fotonya yang akan Anda bawa ke rumah sakit. Katakan, foto itu akan Anda bawa agar adik bayi bisa "melihat" kakaknya.
•Ajak ia membuat tulisan ucapan selamat datang untuk ia berikan pada adik bayi saat Anda kembali ke rumah.
•Saat Anda berada di rumah sakit, seringlah meneleponnya. Ceritakan tentang bayi, tapi bukan sebagai topik utama. Jangan lupa memberi beberapa pesan penting seperti, "Mama sayang kamu dan Mama akan segera pulang." atau, "Mama kangen kamu dan ingin cepat-cepat pulang."

JIKA SI SULUNG DATANG
•Sebaiknya Anda tak menerima tamu lain saat ia menjenguk Anda, agar perhatian Anda hanya terfokus padanya.
•Sambut kedatangannya tanpa kehadiran bayi di gendongan Anda.
•Ajak ia ke kamar bayi atau minta perawat membawa bayi ke kamar Anda, agar ia dapat mengenal adiknya. Buat fotonya bersama bayi.
•Ajak ia memegang adiknya. Tapi jangan terkejut jika perhatiannya singkat dan ia lebih tertarik pada hal-hal lain di dalam kamar daripada bayi.
•Siaplah jika ia menangis atau marah saat tiba waktu pulang. Suka menangis atau marah dapat dimengerti dalam rangka berpisah dari Anda.

KEMBALI KE RUMAH
•Izinkan ia datang bersama ayahnya untuk menjemput Anda di rumah sakit, jika memungkinkan.
•Jika ia di rumah saat Anda pulang, minta orang lain yang membawa bayi masuk ke rumah. Beri ia perhatian khusus untuk beberapa saat.
•Siaplah jika ia menunjukkan reaksi bertentangan terhadap bayi. Ia mungkin terkejut (meski Anda sudah mengingatkan) melihat bayi sering menangis dan tak mengerti segala sesuatu.

MENYIKAPI RASA CEMBURU SI SULUNG
•Beri ia banyak waktu dan kesempatan untuk mengutarakan dan mendiskusikan setiap perasaannya.
•Bantu ia mengidentifikasikan perasaannya, "Adik bayi membuatmu sedih, bukan?" atau "Mama dengar kamu tak suka, ya, dengan adik bayi?"
•Sediakan waktu untuk berdua saja dengan Anda. Entah menemaninya bermain, membaca buku, atau jalan-jalan. Selagi Anda bersamanya, serahkan perawatan bayi pada ayahnya.
•Saat ia dan Anda melakukan satu aktivitas bersama di rumah dan tiba-tiba terganggu oleh bayi, katakan padanya, Anda harus memberikan perhatian pada bayi tapi akan segera kembali untuk main bersamanya.
•Jika ia dan adiknya butuh perhatian Anda pada waktu atau jam yang sama, minta ia datang pada Anda, lalu perhatikan kebutuhannya sambil Anda tetap memberi perhatian pada bayi.
•Ajak ia merawat bayi. Ia dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana seperti membedaki bayi, meletakkan popok kotor di ember atau mengambilkan popok baru (jika disimpan di tempat terjangkau olehnya), membantu memegangi kaki bayi saat Anda mengganti popoknya, dan lainnya.
•Ajak ia bercakap-cakap selagi Anda menggendong atau mengemong bayi. Jika Anda punya batita perempuan, beri ia sebuah botol susu sehingga ia bisa memberi makan bonekanya saat Anda menyusui. Ini akan membantunya mengidentifikasikan dirinya dengan Anda. Juga membuatnya merasa dekat dan terbuka dengan Anda, sehingga bisa menentramkan perasaan kehilangan bahwa ia bukan "bayi" lagi di dalam keluarga.
•Seringlah mengatakan padanya, "Mama sayang kamu. Kamu selalu memiliki tempat di hati Mama."
•Mungkin ia akan tetap rewel tapi Anda tak usah marah. Itulah cara yang ia gunakan untuk mengatakan pada Anda, ia merasa takut kehilangan cinta Anda. Ia ingin Anda tetap peduli dan memperhatikannya. Jelaskan padanya, cinta Anda padanya tak pernah akan berkurang sedikit pun.


Ayah, Inilah Kesempatan Terbaik !
Hubungan antara ayah dan si sulung sering kurang harmonis saat ibu sedang berada di rumah sakit atau sibuk dengan bayi baru. Padahal, ini adalah waktu yang tepat bagi para ayah dan si sulung untuk lebih sering bersama-sama," tulis Judy Dunn dalam bukunya, From One Child To Two.

Meski pengasuhan anak bukan semata-mata menjadi tugas ibu, tapi umumnya para ayah kurang melibatkan diri mereka. Jika Anda termasuk salah satu di antara para ayah yang menyerahkan seluruh pengasuhan anak kepada ibu, sekaranglah saatnya Anda untuk mulai. Apalagi jika Anda yang akan menjaganya selama ibu dalam perawatan persalinan di rumah sakit. Anda harus mulai mengajak anak melakukan segala sesuatu bersama-sama sejak ibu hamil.

Ingatlah, batita seringkali menuntut, "Mama, tolong, dong!" Anda tentu tak boleh membiarkan ia bersikap seperti itu terus-menerus, apalagi jika ibu tak dapat melakukannya karena sibuk merawat bayi. Mulailah secara bertahap melakukan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan anak bersama ibunya. Misal, selama ini anak berangkat tidur bersama ibu dan didongengkan oleh ibu. Untuk tahap pertama, Anda dan pasangan bersama-sama melakukannya, lalu secara bergantian, hingga akhirnya anak terbiasa tanpa kehadiran ibu saat berangkat tidur.

Mungkin awalnya Anda akan bersikap agak malas melakukan semua itu. Tapi semakin banyak waktu Anda bersama anak, Anda akan makin menyukai tanggungjawab baru ini.


sumber : www.tabloid-nakita.com

Menimbang-nimbang Perlengkapan Bayi

Pengalaman beberapa ibu soal perlengkapan bayi yang mereka anggap tidak urgen untuk dimiliki. Semoga pengalaman-pengalaman ini bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum membeli.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

BABY TAFEL

Nana, ibunda Salvador (4 bulan)

"Menurutku baby tafel bukanlah kebutuhan yang wajib dibeli. Tapi kalau dapat hadiah, masih okelah. Pertimbangannya, pertama harganya mahal, hampir sama dengan harga boks bayi, lo. Kedua, makan tempat, terutama bagi ruang terbatas. Yang masih ngontrak bisa repot deh kalau dapat hadiah seperti itu. Ketiga, waktu pemakaiannya pendek. Saat bayiku berusia 4 bulan saja, aku sudah khawatir jika mengganti bajunya di baby tafel. Takut kalau lengah sedikit, Salvador malah terjatuh."

Pertimbangan sebelum membeli;

• Ruangan yang dimiliki. Umumnya ukuran baby tafel sama dengan ukuran sebuah meja standar. Tentu di dalam kamar yang ukurannya terbatas, baby tafel akan mempersempit ruangan.

• Waktu penggunaan singkat. Setelah bayi 6 bulan, memakaikan bayi popok/baju di atas baby tafel justru berisiko karena bayi sudah bisa berguling ke sana kemari.

KERETA DORONG

Tia, ibunda Kezia (1 tahun)

"Kereta dorong sudah kami siapkan semenjak saya masih hamil. Kami pikir itu akan banyak manfaatnya. Ternyata hanya terpakai hingga Kezia berusia 9 bulan. Sebelumnya setiap hari Kezia memang diajak jalan-jalan pagi dengan kereta dorongnya. Namun, setelah ia bisa jalan sendiri, setiap ditaruh di dalam kereta, Kezia enggak betah lagi. Kalau misalnya sedang diajak ke mal, dia lebih banyak jalan sendiri ketimbang duduk manis di kereta dorongnya. Alhasil, kereta dorong itu malah jadi tempat barang-barang belanjaan. Saya memang lebih suka menggendong bayi daripada menjinjing belanjaan. Jadi kereta dorong itu dialihfungsikan menjadi kereta belanja ha...ha..ha..."

Pertimbangan sebelum membeli:

* Tingkat kebutuhan akan kereta dorong. Bila kekerapan kita untuk bepergian dengan si kecil memang tinggi, kereta dorong tentulah menjadi barang yang urgen. Sebaliknya kalau si kecil yang masih imut-imut itu lebih sering tinggal di rumah, ditambah banyak orang yang bersedia menggendongnya--ada nenek, kakek, tante dan pengasuh--dana untuk membeli stroller bisa dialihkan untuk keperluan bayi lainnya.

* "Prinsip" kelekatan. Bila Anda memiliki prinsip untuk selalu menjaga kelekatan dengan bayi (salah satunya dengan menggendong) tampaknya kereta dorong tidak akan banyak digunakan.

BOKS BAYI

Rosyida, ibunda Nasia Ratu Mariam (1 tahun)

"Nasia pakai boks sampai usianya 6 bulanan. Selanjutnya, dia sudah tidak betah. Kalau diletakkan dalam boks, selalu nangis. Setelah itu kami selalu tidur sama-sama. Nilai lebihnya menggunakan boks? Bayi jadi lebih aman karena ada pembatasnya, saya tidak waswas dia akan jatuh bila ditinggal. Juga dalam boks ia lebih terlindung dari nyamuk karena kebetulan boks itu ada kelambunya. Kekurangannya, kalau mau menyusui di malam hari, jadi repot. Sedangkan kalau tidur satu ranjang bersama bayi, kan, kalau mau menyusui bisa langsung. Tidur bersama bayi juga menambah kelekatan antara ibu dan anak."

Pertimbangan sebelum membeli;

* Cermati rencana Anda. Bila si kecil akan diajarkan tidur sendiri semenjak bayi, pilihan memiliki boks adalah tepat. Pilih boks yang sesuai dengan kebutuhan dan keuangan. Bila ingin sekaligus berfungsi sebagai tempat tidur hingga berusia batita, pilihlah yang besar dan dapat ditingkatkan fungsinya.

* Masa pakai boks bayi tidak lama. Umumnya hanya selama masa bayi atau kurang lebih 1 tahun. Setelah memasuki masa batita, biasanya anak sudah aktif bergerak.

* Kalaupun ingin membeli boks, pilih yang beroda dan dapat diletakkan bersisian dengan tempat tidur orangtua, istilahnya bedside cot. Boks jenis ini memiliki pilihan ketinggian, sehingga bisa disejajarkan dengan ketinggian ranjang orangtua.

KERANJANG BAYI

Ruhry Mulyati Setyarini ibunda Aqila Janiska (5 bulan)

"Aku sebenarnya tidak secara khusus membeli keranjang bayi ini. Kebetulan saja ada yang memberi sebagai bingkisan. Sebenarnya sih penggunaannya tidak lama. Sekarang saat Aqila 5 bulan, keranjang bayi itu sudah tidak berfungsi maksimal lagi. Sewaktu masih 1–2 bulan, lumayan terpakai. Terutama kalau ke dokter. Dengan keranjang bayi, tidur Aqila jadi tidak terganggu karena dia bisa tetap meringkuk tenang di dalamnya. Tapi kalau aku sendiri pastinya akan memilih barang yang lain daripada membeli keranjang ini."

Pertimbangan sebelum membeli:

• Keranjang bayi umumnya digunakan untuk bayi yang baru lahir. Dalam keranjang, tidur bayi tidak terganggu jika ia harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Hanya saja, masa pakainya tidak lama.

KANTONG TIDUR

Grace ibunda Patricius Virendra Natha Wiedyanto (5 bulan)

"Buat saya, kantong tidur sebenarnya bukan perlengkapan wajib yang harus dimiliki. Kebetulan saya memilikinya karena hadiah dari teman. Alasan mengapa kantong tidur tidak perlu-perlu amat karena hanya dipakai sewaktu-waktu, umpamanya, saat mengajak bayi kontrol ke dokter. Kalau sehari-hari di rumah sih, enggak pernah dipakai. Kantong tidur itu pun hanya bisa digunakan sampai bayi berusia kurang lebih 3 bulan. Karena tubuhnya sudah semakin besar, kantong tidurnya sudah enggak muat lagi. Sekarang kantong tidur yang saya miliki itu hanya digunakan untuk alas main atau alas kereta dorong supaya lebih empuk."

Petimbangan sebelum membeli:

• Berhubung kita tinggal di negara tropis, bisa jadi kantong tidur malah akan membuat bayi kegerahan dan membuat tidur bayi tidak nyenyak. Namun bila kamar si kecil ber-AC kantong tidur ini bisa menjadi pengganti selimut yang nyaman.

• Kantong tidur umumnya digunakan ketika bayi pulang dari rumah sakit. Fungsinya sebagai pembungkus bayi agar tidak kaget saat terkena suhu luar. Namun sebenarnya selimut tipis khusus untuk bayi juga sudah dapat difungsikan sama dengan kantong tidur.


sumber : http://www.tabloid-nakita.com/
Kamis, 10 Desember 2009

Melatih Bayi Membaca


Mungkinkah melatih anak usia dibawah 2 tahun untuk membaca?

Jika itu pertanyaan yang muncul dalam benak anda, dengan metode yang diciptakan oleh Glenn Doman, anda dapat mengajarkan membaca kepada anak anda dengan lebih cepat.
Seperti yang diungkapkan oleh Irene F. Mongkar, pemerhati anak dan praktisi metode Glenn Doman “Pada usia 11 bulan anak saya bisa membaca 87 kata, selanjutnya pada usia 3 tahun sudah membaca buku. Saat berusia 5 tahun, sudah membaca buku Lima Sekawan,” ungkap Irene F. Mongkar.

Beberapa bulan sebelum anaknya lahir, sekitar 13 tahun lalu, Irene mendapat buku karya Glenn Doman “Bagaimana Mengajar Bayi Membaca”. Buku yang sama telah dibaca dan dipraktikkan rekannya di Surabaya. Pada usia 18 bulan, anak sahabatnya i
tu sudah membaca judul-judul koran.

Setelah anaknya lahir, Irene mempraktikkan teori Glenn Doman. Saat usia bayinya
11 bulan, ternyata semua kata yang pernah dibacakan sejak ia usia 3 bulan, berhasil.
Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuma manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dap
at dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Anak-anak dapat membaca sebuah kata ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika berusia dua tahun, dan sebuah buku ketika berusia tiga tahun dan mereka menyukainya.

Tahun 1961 satu tim ahli dunia yang terdiri atas, dokter, spesialis membaca, ahli bedah otak dan psikolog mengadakan penelitian “Bagaimana otak anak-anak berkembang?”. Hal ini kemudian berkembang menjadi satu informasi yang mengejutkan mengenai bagaimana anak-anak belajar, apa yang dipelajari anak-anak, dan apa yang bisa dipelajari anak-anak.

Hasil penelitian juga mendapatkan, ternyata anak yang cedera otak-pun dapat membaca dengan baik pada usia tiga tahun atau lebih muda lagi. Jelaslah bahwa ada sesuatu yang salah pada apa yang sedang
terjadi, pada anak-anak sehat, jika di usia ini belum bisa membaca.

Penelitian tentang Otak Anak

Bagi otak tidak ada bedanya apakah dia ‘melihat’ atau ‘mendengar’ sesuatu. Otak dapat mengerti keduanya dengan baik. Yang dibutuhkan adalah suara itu cukup kuat dan cukup jelas untuk didengar telinga, dan perkataan itu cukup besar dan cukup jelas untuk dilihat mata sehingga otak dapat menafsirkan. Kalau telinga menerima rangsang suara, baik sepatah kata atau pesan lisan, maka pesan pendengaran ini diuraikan menjadi serentetan impuls-impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang bisa melihat untuk disusun dan diartikan menjadi kata-kata yang dapat dipahami.

Begitu pula kalau mata melihat sebuah kata atau pesan tertulis. Pesan visual ini diuraikan menjadi serentetan impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang tidak dapat melihat, untuk disusun kembali dan dipahami. Baik jalur penglihatan maupun jalur pendengaran sama-sama menuju ke otak dimana kedua pesan ditafsirkan otak dengan proses yang sama.

Dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak:
1. Sikap dan pendekatan orang tua

Syarat terpenting adalah, bahwa diantara orang tua dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan, karena belajar membaca merupakan permainan yang bagus sekali.
Tekankan pada anak anda Belajar adalah:
- Hadiah, bukan hukuman
- Permainan yang paling menggairahkan, bukan bekerja
- Bersenang-senang, bukan bersusah payah

- Suatu kehormatan, bukan kehinaan

2. Membatasi waktu untuk melakukan permainan ini sehingga betul-betul singkat.
Hentikan permainan ini sebelum anak itu sendiri ingin menghentikannya. Karena apabila anak bosan, dia tidak akan tertarik lag
i dengan hal tersebut, sehingga mempersulit kita untuk mengajak anak bermain.

Tahap-tahap mengajar:

TAHAP PERTAMA :

Mengajarkan anak anda membaca dimulai menggunakan
hanya lima belas kata saja. Jika anak anda sudah mempelajari 15 kata ini, dia sudah siap untuk melangkah ke perbendaharaan kata-kata lain.
Cukup bikin semacam flash card, berisi kata. Bahan yang digunakan :
•bahan-bahan dibuat dari kertas putih yang agak kaku (karton poster)
Ukuran karton : tinggi 15 cm, panjang 60 cm

•Kata-kata yang dipakai ditulis dengan spidol besar berwarna merah agar menarik bagi anak
•Ukuran huruf, tinggi 12,5 cm dan lebar 10 cm, serta setiap huruf berjarak kira-kira 1,25 cm
•Gunakan huruf kecil (bukan huruf kapital)
•Buatlah hanya 15 kata, misal : IBU (UMMI/MAMA/BUNDA), BAPAK (ABI/PAPA/AYAH), BAJU, JENDELA, MATA, dll
•Ke-15 kata-kata pertama harus terdiri dari kata-kata yang pali
ng dikenal dan paling dekat dengan lingkungannya yaitu nama-nama anggota keluarga, binatang peliharaan, makanan kesukaan, atau sesuatu yang dianggap penting untuk diketahui oleh sang anak.
•Tulisannya harus rapi dan jelas, model hurufnya sederhana dan konsisten
Contoh Flash Card :







Hari Pertama
Gun
akan tempat bagian rumah yang paling sedikit terdapat benda-benda yang dapat mengalihkan perhatian, baik pendengarannya maupun penglihatannya.
Misalnya, jangan ada radio yang dibunyikan.

1.Tunjukkan kartu bertuliskan IBU/AYAH atau yang lainnya
2.Jangan sampai ia dapat menjangkaunya
3.Katakan dengan jelas ‘ini bacaannya IBU/AYAH’
4.Jangan jelaskan apa-apa
5.Biarkan dia melihatnya tidak lebih dari 1 detik
6.Tunjukkan 4 kartu lainnya dengan cara yang sama
7.Jangan meminta anak mengulang apa yang anda ucapkan
8.Setelah kata ke-5, peluk, cium dengan hangat dan tunjukkan kasih sayang dengan cara yang menyolok
9.Ulangi 3 kali dengan jarak paling sedikit 1,5 jam

Hari Kedua
1.Ulangi pelajaran dasar hari pertama 3 kali
2.Tambahkan lima kata baru yang harus diperlihatkan 3 kali sepanjang hari kedua. Jadi ada 6 pelajaran
3.Jangan lupa menunjukkan rasa bangga anda
4.Jangan lakukan test, belum waktunya !

Hari Ketiga
1.Lakukan seperti hari ke-2
2.Tambahkan lima kata baru seperti hari kedua sehingga menjadi 9 pelajaran
Hari keempat, kelima, keenam
ulangi seperti hari ketiga tanpa menambah kata-kata baru.

Hari Ketujuh
Beri kesempatan pada anak untuk memperlihatkan kemajuannya:
1.Pilih kata kesukaannya
2.Tunjukkan kepadanya dan ucapkan denga jelas ‘ini apa?’
3.Hitung dalam hati sampai sepuluh, Jika anak anda mengucapkan, pastikan anda gembira dan tunjukkan kegembiraan anda Jika anak anda tidak memberikan jawaban atau salah, katakan dengan gembira apa bunyi kata itu dan teruskan pelajarannya.

Ancaman
Kebosanan adalah satu-satunya ancaman. Jangan sampai anak menjadi bosan. “Mengajarnya terlalu lambat akan lebih cepat membuatnya bosan daripada mengajarnya terlalu cepat”
Pada tahap pertama ini, dua hal luar biasa telah anda lakukan:
1.Dia sudah melatih indera penglihatan, dan yang lebih penting: dia telah melatih otaknya cukup baik untuk dapat membedakan bentuk tulisan yang satu dengan yang lainnya.
2.Dia sudah menguasai salah satu bentuk abstraksi yang paling luar biasa dalam hidupnya: dia dapat membaca kata-kata. Hanya ada satu lagi abstraksi besar harus dikuasainya, yaitu huruf-huruf dalam abjad.

TAHAP KEDUA : (kata-kata diri)
Kita mulai mengajarkan anak membaca dengan menggunakan kata-kata ‘diri’ karena anak memang mula-mula mempelajari badannya sendiri.
1.Ukuran karton 12,5 tinggi dan 60 cm panjang
2.Ukuran huruf 10 cm tinggi dan 7,5 cm lebar dengan jarak 1 cm
3.Huruf dan warna seperti tahap pertama
4.Buat 20 kata-kata tentang dirinya, misalnya: tangan kaki gigi jari kuku lutut mata perut lidah pipi kuping dagu dada leher paha siku hidung jempol rambut bibir
5.Dari 3 kelompok kata masing-masing 5 kata di tahap awal, ambil masing-masing 1 kata lama dan tambahkan dengan 1 kata baru di tahap kedua
6.Dari 20 kata baru pada tahap kedua, ambil 10 kata dan jadikan 2 kelompok kata masing-masing 5 kata
7.Jadi sekarang anda memiliki:
o 3 kelompok kata dari tahap pertama yang sudah ditambah kata-kata baru
o 2 kelompok kata baru dari tahap kedua
o total 5 kelompok kata = 25 kata
8.Lakukan seperti tahap pertama
9.Setelah 5 hari ganti 1 kata dari masing-masing kelompok dengan kata baru, sehingga anak mempelajari 5 kata baru.
10.Setelah itu setiap hari ganti 1 kata lama dari masing-masing kelompok data dengan 1 kata baru. Dengan demikian setiap hari anak belajar 5 kata baru masing-masing satu dalam setiap kelompok kata, dan 5 kata lama diambil setiap harinya.

TIPS:
•Usahakan jangan ada 2 kata yang dimulai dengan yang sama secara berurutan, misalnya ‘lidah’ dengan ‘lutut’
•Anak-anak usia 6 bulan sudah bisa diajarkan. Lakukan dengan cara yang persis sama kalau anda mengajarnya berbicara
•Ingat, membaca bukan berbicara
•Usaha mengajar bayi membaca dapat membaca dapat mempercepat berbicara dan memperluas perbendaharaan kata.

TAHAP KETIGA : (kata-kata ‘rumah’)
Sampai tahap ini, baik orang tua maupun anak harus melakukan permainan membaca ini dengan kesenangan dan minat besar. Ingatlah bahwa anda sedang menanamkan cinta belajar dalam diri anak anda, dan kecintaan ini akan berkembang terus sepanjang hidupnya. Lakukan permainan ini dengan gembira dan penuh semangat.
1.Ukuran karton 7,5 cm tinggi dan 30 cm panjang
2.Ukuran huruf 5 cm tinggi dan 3,5 cm lebar dengan jarak lebih dekat
3.Huruf dan warna seperti tahap tahap kedua
4.Terdiri dari nama-nama benda di sekeliling anak serta lebih dari 2
suku kata, misalnya: kursi, meja, dinding, lampu, pintu, tangga,
jendela, dll
5.Gunakan cara pada tahap kedua dengan setiap hari menambah 5 kata baru dari tahap ke tiga
6.Setelah kata benda, masukkan kata milik, misalnya: piring, gelas,topi, baju, jeruk, celana,sepatu, dll.
7.Setelah itu masukkan kata perbuatan, misalnya: duduk,berdiri, tertawa, melompat, membaca, dll
8.Pada tahap kata perbuatan , agar lebih menarik, sambil
menunjukkan kata tersebut, anda praktekkan sambil katakana ‘Ibu
melompat’, ‘kakak melompat’, dsb

TAHAP KEEMPAT :
1.Ukuran kartu 4 cm tinggi dan 20 cm panjang
2.Ukuran huruf 5 cm
3.Huruf kecil, warna hitam
4.Tunjukkan kata demi kata seperti tahap sebelumnya lalu gabungkan misalnya ‘ini’ dan kata ‘bola’ menjadi ‘ini bola’.
5.Lakukan beberapa kata beberapa kali setiap hari.

TAHAP KELIMA : (susunan kata dalam kalimat)
1. Pilihkan buku sederhana dengan syarat :
•Perbendaharaan kata tidak lebih dari 150 kata Jumlah kata dalam 1 halaman tidak lebih dari 15-20 kata
•Tinggi huruf tidak kurang dari 5 mm
•Sedapat mungkin teks dan gambar terpisah.
•Carilah yang mendekati persyaratan tersebut

2. Salinlah kata-kata yang ada setiap halaman tersebut ke dalam satu kartu kira-kira ukuran 1 kertas A4. Huruf hitam, ukuran tinggi huruf 2,5 cm. Jumlah kartu ’susunan kata-kata’ sama dengan jumlah halaman buku. Ukuran kartu harus sama walaupun jumlah kata tidak sama.
Sekarang anda sudah mempunyai kartu-kartu dengan kata-kata yang ada dalam setiap halaman buku yang akan dibaca anak. Lubangi sisi kartu-kartu untuk dijilid menjadi sebuah buku yang isinya sama namun ukurannya lebih besar.
3. Bacakan kartu demi kartu pelan-pelan, sehingga anak belajar kalimat demi kalimat.
4. Bacakan dengan ekspresi sesuai dengan kalimat bacaan.
5. Lakukan secara rutin, minimal 5 kartu sebanyak 3 kali selama 5 hari.
6. Ketika membaca kartu pada hari lainnya, kartu yang lama sebaiknya diulang. Setelah selesai kartu-kartu dibaca, simpanlah beurutan di dalam sebuah map atau dibinding deperti buku.
7. Pada saat selesai 1 buku, berilah ijazah yg ditandatangani ibu, yg menyatakan bahwa pada hari ini, tanggal ini, pada usia anak sekian, telah selesai dibaca buku ini.

TAHAP KEENAM : (susunan kata dalam kalimat)
Pada tahap ini, anak sudah siap membaca buku yg sebenarnya, karena dia sudah 2 kali melakukan hal itu. Perbedaan ukuran huruf dari 5 cm (Tahap 4), 2,5 cm (Tahap 5) dan 5 mm (Tahap 6 ini) adalah sangat berarti khususnya bagi anak yang masih sangat muda, karena itu juga berarti anda membantu mendewasakan dan memperbaiki indera penglihatannya.

Kunci Keberhasilan
1.Jangan membosankan anak
2.Jangan memaksa anak
3.Jangan tegang
4.Jangan mengajarkan abjad terlebih dahulu
5.Bergembiralah
6.Ciptakan cara baru
7.Jawablah semua pertanyaan anak
8.Berilah buku bacaan yang bermutu

Penutup
Pada dasarnya anak memiliki kemampuan yang luar biasa, khususnya pada usia yg semakin kecil. Hanya diperlukan perhatian, kemauan,ketekunan serta yang utama kasih sayang orangtua untuk membuatnya mampu mengeluarkan potensinya yg luar biasa tsb.

Referensi :
•http://dranak.blogspot.com/2006/06/mengajar-bayi-anda-membaca-metode.html
•Buku “Mengajar Bayi Membaca” – Glenn Doman
•http://www.babyfirstyear.org/2007/11/teach-your-baby-to-read-using-glenn.html